Memandang dengan menembus bidang yang telah tersedia. Memandang segala sesuatu yang ada dimuka bumi dengan berbagai sudut pandang sehingga cara pandang manusia bisa lebih utuh meskipun tetap tidak sampai sempurna.
Senin, 30 Januari 2012
JURAI
1.Pengertian jurai
Garis sambungan antara atap yang satu dengan bidang atap yang lainnya disebut jurai. Bubungan adalah pertemuan dari dua bidang atap yang merupakan garis miring menyudut.
Atap sederhana berbentuk pelana hanya memiliki satu buah sambungan, yaitu pada bagian atas atau yang sering disebut Bubungan. Namun pada atap dengan model yang lebih kompleks, apalagi dengan model yang bertingkat-tingkat dan bersiku, akan terdapat banyak bidang atap.
2.Macam-macam jurai
Menurut bentuknya, terdapat dua macam jurai, yaitu jurai dalam dan jurai luar.
a.Jurai dalam merupakan balok kayu yang diletakan miring menghadap kedalam. Jurai dalam ini berfungsi sebagai pertemuan dan tumpuan antara balok gording dengan balok gording lainnya serta dudukan papan talang. Kayu yang diguakan sebagai jurai dalam berukuran 8 cm x 12 cm atau 8 cm x 15 cm. Pada jurai dalam biasanya diberikan talang sebagai tempat lewatnya air misalnya pada saat hujan.
b.jurai luar adalah sambungan yang menonjol kearah luar. Sementara pada jurai luar biasaya diberikan genteng khusus yang disebut Nok.
Apabila dirumah kita terjadi kebocoran, salah satu sumbernya bisa si jurai ini. Mengapa demikian? Karena untuk menyambungkan atau menghubungkan dua bidang atap digunakan semen. Karena terkena cuaca yang berbeda-beda kadang terpapar sinar matahari terik dan tersiram air hujan-semen ini bisa retak. Nah kalau sudah retak, air bisa masuk dan merembes kedalam, dan menyebabkan bocor. Kalau retaknya hanya kecil, mungkin hanya akan menyebabkan flek pada plafond (berupa bercak atau noda kecoklatan). Tapi kalau retaknya cukup besar, bisa-bisa sampai menyebabkan air menetes. Kalau menggunakan bahan triplek bisa menyebabkan tripleks keriting alias bergelombang. Kalau menggunakan bahan gipsum bisa menyebabkan gipsum hancur. Salah satu untuk mengurangi menghindari bocor seperti ini adalah dengan mengurangi jumlah jurai pada atap.
Pada konstruksi bubungan di dukung oleh suatu rangka yang terdiri dari batang-batang tersusun seperti batang tunjang, batang pincang, tiang pincang beserta batang-batang pelengkap lainnya.
Rabu, 30 November 2011
Penutup Atap
Penutup atap adalah bagian terpenting dari atap. Pemilihan jenis bahan penutup atap ini sangan menentukan struktur rangka atapnya. Ada banyak jenis bahan yang dapat digunakan sebagai penutup atap, diantaranya ialah sirap, genteng, asbes, fibersemen, dan baja atau metal.
Macam-macam penutup atap antara lain sebagai berikut:
a.Genteng
Berdasarkan bahan bakunya, genteng dibedakn menjadi dua, yaitu genteng tanah dan genteng beton. Bahan dasar pembuatan genteng tanah adalah tanah liat yang dicetak baik secara manual ( dengan tangan ) atau menggunakan mesin press yang kemudian dibakar dengan sempurna. Sementara genteng beton terbuat dari campuran pasir atau abu batu dengan semen PC yang dicetak menggunakan mesin bersasarkan bentuknya. Genteng trdiri dari berbagai jenis, yaitu genteng kodok, genteng plentong, genteng morado, genteng keramik, dan genteng beton.
-Genteng kodok tergolong ringan dibanding jenis lainnya, yaitu hanya sekitar 1,5-1,8 kg per buah. Kebutuhan genteng per meter persegi atap sekitar 21-25 buah, tergantung ukuran gentengnya. Sudut kemiringan pada saat pemasangannyasebagai atap adalah 19 tanpa alumunium foil.
-Genteng pelentong ini paling banyak digunakan selain harganya relatif murah, pemasangannya juga cukup mudah, kebutuhan permeter perseginya sebanyak 25 buah dengan berat 1,5 kg/buah.
-Genteng murado mempunyai spesifikasi antara lain berat 2.3 kg/buah, isi 18 buah per meter persegi, jarak usuk 40 cm, jarak reng 27,5 cmkemiringan atap minimum 19 derajat.
-Genteng keramik mempunyai spesifikasi antaralain berat 3,2 kg/buah, isi 14 buah per meter persegi, jarak usuk 40 cm. Genteng ini cukup kuat dibanding jenis lainnya.
-Genteng beton mempunyai spesifikasi antaralain berat 4-4,2 kg/buah, isi 9-10 buah per meter persegi.genteng beton ini campuran semen, pasir, bahan pengikat, bahan penguat, dan bahan pewarna.
b.Fibersemen
Penutup atap fibersemen palingmudah dipasang dan harganya relaif lebih murah dibanding dengan penutup atap lainnya. Ini disebabkan penggunaan rangka atap tidak sebangak rangka atap yang menggunakan penutup atap genteng. Adapun ukuran fibersemen yang ditemui dipasaran antara lain lebar 10,5 m denagn panjang 1,5 m; 1,8 m; 2,1 m; 2,4 m; 2,7 m; dan 3 m.
Penutup atap fibersemen ini ada tiga tipe, yaitu tipe gelombang 5,5 karena tiap lembarnya terdapat 5,5 gelombang, kemudian tipe gelombang 14 karena pada setiap lembar terdapat 14 gelombang.
c.Sirap
Sirap merupakan bahan penutup atap dari bahan papan kayu berukuran 60 cm x 70 cm dengan ketebalan 1 mm.jenis kayu yang sering digunakan untuk sirap ini adalah kayu ulin dankayu belian.keuntungan pemakain sirap adalah penyerap panas lebih lambat sehingga ruangan lebih dingin, tahan lama karena kualitas kayu ulin dapat mencapai puluhan tahun bahkan ratusan tahun. Sementara kekurangannya adalah karena dipasaran langka ditemukan maka harganya cukup mahal.
d.Genteng metal
Genteng metal tersebut dari pelat baja yang diberi lapisan zink. Keuntungan mengguanakan bahan penutup atap ini adalah ringa, anti bocor, mudah mengikuti bentuk atap, hemat biaya rangka atap, tidak mudah terbakar. Adapun kekurangannya adalah pada saat pemasangan harus hati-hati bila menginjaknay karena ketebalannya hanya 0,5 mm. Adapun spesifikasinya berukuran 410 mm x 710 mm, berat 1,5 kg/lembar, 6,375 kg per meter persegi, 4,25 lembar per meter persegi.
e.Penutup atap PVC ( polyvinyl chlorid )
Atap ini digunakan untuk bangunan luar rumah dengan ketebaln 10 mm tetapi PVC ini masih cukup kuat dan tidak mudah patah, bobotnya hanya sekitar 3,5 kg per meter persegi.
Penutup atap adalah bagian terpenting dari atap. Pemilihan jenis bahan penutup atap ini sangan menentukan struktur rangka atapnya. Ada banyak jenis bahan yang dapat digunakan sebagai penutup atap, diantaranya ialah sirap, genteng, asbes, fibersemen, dan baja atau metal.
Macam-macam penutup atap antara lain sebagai berikut:
a.Genteng
Berdasarkan bahan bakunya, genteng dibedakn menjadi dua, yaitu genteng tanah dan genteng beton. Bahan dasar pembuatan genteng tanah adalah tanah liat yang dicetak baik secara manual ( dengan tangan ) atau menggunakan mesin press yang kemudian dibakar dengan sempurna. Sementara genteng beton terbuat dari campuran pasir atau abu batu dengan semen PC yang dicetak menggunakan mesin bersasarkan bentuknya. Genteng trdiri dari berbagai jenis, yaitu genteng kodok, genteng plentong, genteng morado, genteng keramik, dan genteng beton.
-Genteng kodok tergolong ringan dibanding jenis lainnya, yaitu hanya sekitar 1,5-1,8 kg per buah. Kebutuhan genteng per meter persegi atap sekitar 21-25 buah, tergantung ukuran gentengnya. Sudut kemiringan pada saat pemasangannyasebagai atap adalah 19 tanpa alumunium foil.
-Genteng pelentong ini paling banyak digunakan selain harganya relatif murah, pemasangannya juga cukup mudah, kebutuhan permeter perseginya sebanyak 25 buah dengan berat 1,5 kg/buah.
-Genteng murado mempunyai spesifikasi antara lain berat 2.3 kg/buah, isi 18 buah per meter persegi, jarak usuk 40 cm, jarak reng 27,5 cmkemiringan atap minimum 19 derajat.
-Genteng keramik mempunyai spesifikasi antaralain berat 3,2 kg/buah, isi 14 buah per meter persegi, jarak usuk 40 cm. Genteng ini cukup kuat dibanding jenis lainnya.
-Genteng beton mempunyai spesifikasi antaralain berat 4-4,2 kg/buah, isi 9-10 buah per meter persegi.genteng beton ini campuran semen, pasir, bahan pengikat, bahan penguat, dan bahan pewarna.
b.Fibersemen
Penutup atap fibersemen palingmudah dipasang dan harganya relaif lebih murah dibanding dengan penutup atap lainnya. Ini disebabkan penggunaan rangka atap tidak sebangak rangka atap yang menggunakan penutup atap genteng. Adapun ukuran fibersemen yang ditemui dipasaran antara lain lebar 10,5 m denagn panjang 1,5 m; 1,8 m; 2,1 m; 2,4 m; 2,7 m; dan 3 m.
Penutup atap fibersemen ini ada tiga tipe, yaitu tipe gelombang 5,5 karena tiap lembarnya terdapat 5,5 gelombang, kemudian tipe gelombang 14 karena pada setiap lembar terdapat 14 gelombang.
c.Sirap
Sirap merupakan bahan penutup atap dari bahan papan kayu berukuran 60 cm x 70 cm dengan ketebalan 1 mm.jenis kayu yang sering digunakan untuk sirap ini adalah kayu ulin dankayu belian.keuntungan pemakain sirap adalah penyerap panas lebih lambat sehingga ruangan lebih dingin, tahan lama karena kualitas kayu ulin dapat mencapai puluhan tahun bahkan ratusan tahun. Sementara kekurangannya adalah karena dipasaran langka ditemukan maka harganya cukup mahal.
d.Genteng metal
Genteng metal tersebut dari pelat baja yang diberi lapisan zink. Keuntungan mengguanakan bahan penutup atap ini adalah ringa, anti bocor, mudah mengikuti bentuk atap, hemat biaya rangka atap, tidak mudah terbakar. Adapun kekurangannya adalah pada saat pemasangan harus hati-hati bila menginjaknay karena ketebalannya hanya 0,5 mm. Adapun spesifikasinya berukuran 410 mm x 710 mm, berat 1,5 kg/lembar, 6,375 kg per meter persegi, 4,25 lembar per meter persegi.
e.Penutup atap PVC ( polyvinyl chlorid )
Atap ini digunakan untuk bangunan luar rumah dengan ketebaln 10 mm tetapi PVC ini masih cukup kuat dan tidak mudah patah, bobotnya hanya sekitar 3,5 kg per meter persegi.
BAGIAN ATAP & MACAM ATAP
Bagian-Bagian Konstruksi Atap
a.Papan bubungan
b.Balok bubungan
c.Reng
d.Kaso-kaso
e.Gording
f.Klose
g.Kaki kuda-kuda
h.Tiang kuda-kuda
i.Balok sokong
j.Balok tarik
k.Balok pengunci
l.Balok tembok
m.Listpang
Macam-Macam Bentuk Atap
Pada suatu gambar denah untuk sebuah rumah tempat tinggal dapat direncanakan beberapabentuk atap yang sesai dan serasi.Faktor yang sangat menentukan dalam memilih bentuk atap rumah tinggal adalh hujan, panas, dan dingin. Bentuk atap harus mampu menahan derasnya air hujan, menahan sengatan matahari, dan menahan kuatnya dorongan angin. Di antara ketiga faktor penentu tersebut, faktor angin memiliki resiko yang paling besar.
Keserasian penutup atap merupakan juga keindahan ( estetika ) dan merupakan pula mahkota bangunan. Mengingat hal-hal tersebut di atas sebelum kita memilih bentuk yang cocok agar bangunan kita serasi, maka lebih dahulu kita haru mengenal bentuk-bentuk atap yang ada.
Berbagai macam bentuk atap itu adalah :
1.Atap datar (platdak), biasanya menggunakan beton bertulang yang dihitung tersendiri sesuai dengan bentangan dan tebal plat. Meskipun tipe ini dikatakan datar, namun permukaan atap selalu dibuat miring untuk menyalurkan air hujan kelubang talang.
2.Atap pelana (Zadeldak), terdiri dari dua bidang miring atap yang tepi atasnya bertemu pada satu garis lurus yang disebut bubungan. Tipe ini banyak digunakan untuk rumah sederhana dan banyak dijumpai di daerah pedesaan Bali, Jawa Barat, Jawa timur, dan Jawa Tengah.
3.Atap perisai (schildak), merupakan menyempurnaan dari bentuk atap pelana dengan menambahkan dua bidang atap miring yang membentuk segitiga pada ujung akhir atap bangunan.
4.Atap tenda (tentdak), biasa dipakai pada bangunan yang ukuran panjang dan lebarnya sama, ini berarti atap terdiri dari empat bidang atap dan empat jurai dengan bentuk, ukuran dan lereng yang sama yang bertemu pada satu titik tertinggi, yaitu pada tiang penggantung.
5.Atap runcing atau menara (terendak), serupa dengan bentuk atap tenda, akan tetapi kemiringan dari jurai lebih curam.
6.Atap kerucut (kegeldak) disebut juga atap limasan karena memiliki bentuk seperti limas, kemiringan atap ini sangat besar yaitu diatas 30 derajat. Bahan struktur dan penutup atap dibutuhkan cukup banyak. Pengerjaannya cukup lama dan rumit. Namun demikian, keindahan bentuk atap ini lebih baik dari model atap lainnya.
a.Papan bubungan
b.Balok bubungan
c.Reng
d.Kaso-kaso
e.Gording
f.Klose
g.Kaki kuda-kuda
h.Tiang kuda-kuda
i.Balok sokong
j.Balok tarik
k.Balok pengunci
l.Balok tembok
m.Listpang
Macam-Macam Bentuk Atap
Pada suatu gambar denah untuk sebuah rumah tempat tinggal dapat direncanakan beberapabentuk atap yang sesai dan serasi.Faktor yang sangat menentukan dalam memilih bentuk atap rumah tinggal adalh hujan, panas, dan dingin. Bentuk atap harus mampu menahan derasnya air hujan, menahan sengatan matahari, dan menahan kuatnya dorongan angin. Di antara ketiga faktor penentu tersebut, faktor angin memiliki resiko yang paling besar.
Keserasian penutup atap merupakan juga keindahan ( estetika ) dan merupakan pula mahkota bangunan. Mengingat hal-hal tersebut di atas sebelum kita memilih bentuk yang cocok agar bangunan kita serasi, maka lebih dahulu kita haru mengenal bentuk-bentuk atap yang ada.
Berbagai macam bentuk atap itu adalah :
1.Atap datar (platdak), biasanya menggunakan beton bertulang yang dihitung tersendiri sesuai dengan bentangan dan tebal plat. Meskipun tipe ini dikatakan datar, namun permukaan atap selalu dibuat miring untuk menyalurkan air hujan kelubang talang.
2.Atap pelana (Zadeldak), terdiri dari dua bidang miring atap yang tepi atasnya bertemu pada satu garis lurus yang disebut bubungan. Tipe ini banyak digunakan untuk rumah sederhana dan banyak dijumpai di daerah pedesaan Bali, Jawa Barat, Jawa timur, dan Jawa Tengah.
3.Atap perisai (schildak), merupakan menyempurnaan dari bentuk atap pelana dengan menambahkan dua bidang atap miring yang membentuk segitiga pada ujung akhir atap bangunan.
4.Atap tenda (tentdak), biasa dipakai pada bangunan yang ukuran panjang dan lebarnya sama, ini berarti atap terdiri dari empat bidang atap dan empat jurai dengan bentuk, ukuran dan lereng yang sama yang bertemu pada satu titik tertinggi, yaitu pada tiang penggantung.
5.Atap runcing atau menara (terendak), serupa dengan bentuk atap tenda, akan tetapi kemiringan dari jurai lebih curam.
6.Atap kerucut (kegeldak) disebut juga atap limasan karena memiliki bentuk seperti limas, kemiringan atap ini sangat besar yaitu diatas 30 derajat. Bahan struktur dan penutup atap dibutuhkan cukup banyak. Pengerjaannya cukup lama dan rumit. Namun demikian, keindahan bentuk atap ini lebih baik dari model atap lainnya.
Jumat, 18 November 2011
ATAP
Atap merupakan mahkota sebuah bangunan atau rumah yang berperan penting dalam menentukan keindahan dan kenyamanan bangunan. Pemilihan bentuk dan pemasangan atap yang kurang baik beresiko terjadi kebocoran sehingga penghuni bangunan tersebut merasa tidak nyaman. Memang hal ini dapt diperbaiki, tetapi dipelukan biaya dan energi cukup banyak. Biaya tersebut bukan hanya untuk biaya perbaikan atap, tetapi keamanan benda-benda atau barang-barang yang ada dibawahnyaatau di dalam rumah. Bukan tidak mungkin akan redapat banyak barang mengalami kerusakan akibat tertima benda yang digunakan untuk perbaikan atap.
Selain masalah tersebut,atap yang kurang baik akan mempengarhi tingkat keamanan rumah tersebut. Ini dapat terjadi bila perbaikannya terbilang berat sehingga atap harus dibongkar total. Dapat saja karena konstruksi atap tidak baik sehingga atap ambruk atau roboh. Bila ini yang terjadi, bukan tidak mungkin benda dan mahluk hidup di bawahnya akan mengalami cedera. Untuk itulah, pengetahuasn tentang atap ini harus diketahui dan dipahamin siapa saja sebagai tindak antisipatif bila ingin membangun, merenovasi, atau mengembangkan rumahnya.
Selasa, 15 November 2011
KUSEN PINTU DAN JENDELA
Pintu sebagai keperluan sebagai jalan memasuki kedalam atau keluar ruangan sehingga memperlancar lalu lintas, sedangkan jendela sebagai lubang untuk pencahayaan alami pada siang hari dan untuk sirkulasi udara. Kedua hal utama dalam bangunan tersebut haruslah memiliki ukuran yang seimbang, serasi dan nyaman bagi penggunanya.
Selain itu pintu dan jendela ini pun harus seimbang dan serasi dengan keseluruhan bangunan baik itu dilihat dari ukuran maupun dari bentuknya. Untuk dapat keluar masuk ruangan dari suatu bangunan, diperlukan lubang/tembusan yang harus dengan mudah dapat dibuka dan ditutup yang dinamakan pintu. Untuk menambah masuknya cahaya siang hari dan udara segar pada ruangan, diperlukan jendela dan ventilasi. Jendela juga harus mudah dibuka dan ditutup.
Setiap bangunan rumah tempat tinggal akan selalu dilengkapi dengan pintu dan jendela dengan berbagai macam bentuk dan ukuran. Pintu yang di pasang sebagai lubang untuk keperluan memasuki suatu ruangan/ memperlancar lalu lintas orang. Sedangkan jendela dipasang untuk memenuhi keperluan akan pemasukan penerangan pada siang hari dan sirkulasi udara.
Ukuran-ukuran pintu harus disesuaikan dengan maksud dan tujuannya, serta bila dipandang secara keseluruhan bangunan nampak betul- betul serasi. Biasanya dalam kenyataan dilapangan pintu dibuat dengan berkisar 200 cm dan lebarnya kurang lebih 85 cm. Kebanyakan dalam bekerja daun pintu/jendela memutar keluar atau kedalam dan ada juga bergerak ke samping (menyerong). Untuk pintu garasi dan toko-toko menggunakan pintu gulung(rolling door)
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan pintu maupun jendela adalah :
•Konstruksi daun pintu dan jendela harus dibuat kaku sehingga tidak akan mengalami perubahan bentuk seperti jajaran genjang.
•Daun pintu dan jendela yang memakai bingkai harus memiliki ukuran lebar dan tebal yang sesuai sehingga tidak melentur dikemudian hari
•Pada pemasangan pintu dan jendela, jangan sekali-kali ada celah lubang antara pertemuan kusen dengan daun pintu dan jendela.
•Untuk mencegah penyusutan atau pelenturan. Kayu yang digunakan harus memiliki mutu yang baik.
Daun Pintu dan Jendela.
A. Macam daun pintu dan jendela.
a)Daun pintu klam
1.Pintu klam terdiri dari deretan papan klam yang diperkuat dengan klam. Letak klam dapat horisontal, atau kombinasi horisontal dan diagonal.
2.Tebal papan klam 1,5 s/d 2 cm, lebar papan klam kurang dari 15 cm, bila terjadi penyusutan tidak menimbulkan celah lebar. Tebal klam 2,5 s/d 3 cm, lebar 12 s/d 15 cm.
b) Daun Jendela Klam
1. Memiliki dimensi sama seperti daun jendela pada umumnya.
2. Merupakan deretan papan klam dengan tebal 1-2 cm.
3. Diperkuat dengan klam tebal 2,5 - 3 cm , lebar 12 -15 cm.
c) Daun pintu panil
1. Ukuran panil menggunakan tebal papan 3 – 3,5 cm, kedalaman alur panil dibuat minimal 1cm, bila terjadi penyusutan kayu, daun pintu tidak akan bercelah.
2. Bentuk panil dapat dibuat bervariasi, seperti pada pintu klasik, panil dapat diberi hiasan bentuk profil.
d) Daun Jendela Panil
1. Jendela panil terdiri dari ambang atas, ambang bawah dan samping. Dimensi ambang 3,5 /10 cm.
2. Papan panil menggunakan tebal papan 1,5 – 2 cm.
3. Ambang bagian dalam dari jendela panil dapat diberi ornamen berupa bentuk profil.
e) Daun pintu krepyak
1. Krepyak berfungsi membantu pertukaran udara dalam ruang.
2. Tebal krepyak menggunakan papan tebal 1,5 – 2 cm.
3. Kemiringan krepyak membentuk sudut 45?, perhatikan cara penarikan krepyak bawah dengan krepyak atasnya.
f) Daun Jendela krepyak
1. Daun jendela krepyak memiliki fungsi sama dengan daun pintu krepyak, yaitu membantu sirkulasi udara dalam ruang dalam keadaan tertutup.
2. Penggunaan krepyak dapat menyeluruh, dapat juga dikombinasikan dengan panil. Ketebalan krepyak 1,5-2 cm.
g) Daun Pintu Kaca.
1. Ukuran kisi-kisi kaca 3 x 3 cm. Kisi-kisi menggunakan sambungan persilangan setengah takikan.
2. Tebal kaca : Daun pintu berkaca lebar seperti pada pintu gendong menggunakan tebal 5 mm, untuk daun pintu dengan kisi-kisi menggunakan tebal kaca 3 mm.
h) Daun Jendela Kaca
1. Daun jendela kaca dapat menggunakan kaca penuh, dapat juga menggunakan kisi-kisi.
2. Daun jendela kaca dapat juga dikombinasikan dengan panil kayu.
3. Kaca menggunakan tebal 3mm untuk jendela kaca berdaun lebar, atau jendela kaca mati, menggunakan kaca tebal 5 mm.
i) Daun Pintu kombinasi Panil Krepyak
1. Batas antara panil dan krepyak pada Ketinggian daun pintu dan jendela Kurang lebih ½ dari tinggi daun.Krepyak pada bagian atas dan bagian bawah panil kayu.
2. Bentuk ini dipakai pada daun pintu dan jendela rangkap/dobel.
j) Daun Jendela kombinasi Panil Krepyak.
1. Kombinasi ini dapat menyatu, dapat juga terpisah. Bagian atas menggunakan krepyak, bagian bawah menggunakan panil kayu.
2. Untuk yang menyatu menggunakan ambang tengah, sedangkan untuk yang terpisah masing- masing memiliki ambang atas dan bawah.
k) Daun Pintu Kombinasi Panil dan Kaca.
1. Panil kayu pada bagian bawah daun, Panil kaca pada bagian atas.
2. Panil kayu dan panil kaca dapat diberi kisi-kisi seperti pada pintu klasik.
3. Kisi-kisi untuk kaca menggunakan Kayu ukuran 3 x 3 cm.
4. Pada pintu rangkap, pertemuan dua daun pintu diberi penutup/ lat yang disebut hidung-hidung.
l) Daun Pintu Play wood.
1. Rangka bagian dalam menggunakan ram kayu 3/13 cm sebagai ambang datar dan ambang tegak. Sambungan menggunakan lubang dan pen.
2. Bagian dalam diberi bilah yang berfungsi menahan playwood supaya tidak cembung. Ukuran bilah 2x3 cm.
3. Cara menempelkan playwood tidak dipaku akan tetapi menggunakan lem kayu
m) Daun Pintu Lipat.
1. Daun pintu lipat biasanya dipergunakan untuk pintu garasi, pertokoan, gedung pertemuan dan sebagainya.
2 Karena pintunya sangat lebar, maka lebar daun dibuat kecil-kecil, agar beban engsel menjadi ringan dan daun mudah dilipat.
3 Hubungan daun satu dan yang lain menggunakan engsel. Kualitas engsel harus baik, terutama engsel yang paling tepi.
4. Lebar kusen maksimum 3 m, apabila lebih dari 3 m, daun pintu menjadi berat, engsel menjadi mudah rusak dan terjadi penurunan pada daun. Untuk lebar kusen lebih dari 3 m sebaiknya menggunakan daun pintu sorong (sliding door).
B. Lebar daun pintu
Lebar daun pintu disesuaikan dengan lebar kusennya. Untuk lebar kusen 0,60 – 1,00 m biasanya dibuat daun pintu tunggal, sehingga ukuran lebar daun = ukuran dalam lebar kusen ditambah 2 x ukuran kedalaman sponning yaitu antara 2 – 3 cm. Untuk lebar kusen pintu 1,20- 1,40 m biasanya daun pintu dibuat dobel. Sehinga ukuran lebar daun pintu = ½ x lebar dalam kusen + kedalaman sponning 1 s/d 1,5 cm. Untuk daun pintu lipat dan pintu sorong lebar daun ditentukan berdasarkan lebar kusen kemudian dibagi menjadi beberapa bagian yang sama, misal untuk lebar kusen 3,00 m, apabila jumlah daun ada 5 buah, maka masing–masing daun lebarnya = ( 300 + 2 ) cm : 5 = 60, 4 cm. Untuk kusen di atas lebar 3,00 m sudah harus menggunakan pintu sorong (sliding door).
C. Lebar daun jendela.
Lebar daun jendela ditentukan oleh lebar dalam kusennya. Untuk jendela tunggal lebar daun = lebar dalam kusen + 2 s/d 3 cm. Untuk jendela rangkap lebar daun = ½ x lebar kusen + 1 s/d 1,5 cm.
D. Macam daun pintu dan jendela menurut penggunaannya.
1). Untuk ruang tamu : daun pintu panil kayu, panil kaca, kombinasi kayu dan kaca, daun pintu krepyak.
2). Daun jendela biasanya menggunakan jendela kaca.
3). Untuk ruang tidur : daun pintu panil kayu, daun pintu play wood.
4). Daun jendela panil kaca, untuk keamanan dapat menggunakan daun jendela krepyak
5). Untuk gudang : daun pintu panil, pada rumah sederhana menggunakan
6). daun pintu klam., jendela menggunakan penerangan atas dan ventilasi.
7). Untuk kamar mandi/wc : Menggunakan pintu panil atau pintu klam, penerangan dan ventilasi atas.
8). Untuk gedung perkantoran ; menggunakan daun pintu panil atau daun pintu kaca lebar, jendela mengunakan kaca lebar , untuk keamanan kadang diperkuat dengan teralis besi.
9). Untuk bangunan sekolah, pada bangunan lama banyak menggunakan daun pintu panil kombinasi krepyak dan jendela krepyak, sekarang banyak menggunakan pintu panil atau panil kombinasi kaca.
10). Untuk jendela menggunakan daun jendela kaca.
E. Bagian-bagian utama pada konstruksi daun pintu dan jendela.
1. Setiap daun pintu dan jendela minimal memiliki 4 ambang yaitu dua ambang tegak dan dua ambang datar. Tebal ambang dibuat sama dengan lebar sponning daun antara 3 s/d 4 cm.
2. Untuk pintu panil biasanya diperkuat dengan ambang datar tengah.
3. Ambang datar bawah dibuat lebih besar dari ambang datar tengah dan atas dikarenakan ambang datar bawah menahan beban berat sendiri daun pintu.
4. Sambungan ambang datar dan ambang tegak menggunakan sambungan pen dan lubang yang diperkuat dengan spat pen. Tebal pen diambil 1/3 dari ukuran tebal ambang.
5. Fungsi spat pen adalah disamping untuk merapatkan sambungan, berfungsi juga untuk memperluas bidang patahan, mengingat daun pintu dan jendela merupakan konstruksi yang bergerak, tinggi spat pen dibuat ¼ x lebar ambang
6. Pertemuan bagian dalam ambang biasanya dibuat verstek dengan kemiringan sudut 450, yang berfungsi juga menjaga agar sambungan bagian dalam tetap rapat.
Selain itu pintu dan jendela ini pun harus seimbang dan serasi dengan keseluruhan bangunan baik itu dilihat dari ukuran maupun dari bentuknya. Untuk dapat keluar masuk ruangan dari suatu bangunan, diperlukan lubang/tembusan yang harus dengan mudah dapat dibuka dan ditutup yang dinamakan pintu. Untuk menambah masuknya cahaya siang hari dan udara segar pada ruangan, diperlukan jendela dan ventilasi. Jendela juga harus mudah dibuka dan ditutup.
Setiap bangunan rumah tempat tinggal akan selalu dilengkapi dengan pintu dan jendela dengan berbagai macam bentuk dan ukuran. Pintu yang di pasang sebagai lubang untuk keperluan memasuki suatu ruangan/ memperlancar lalu lintas orang. Sedangkan jendela dipasang untuk memenuhi keperluan akan pemasukan penerangan pada siang hari dan sirkulasi udara.
Ukuran-ukuran pintu harus disesuaikan dengan maksud dan tujuannya, serta bila dipandang secara keseluruhan bangunan nampak betul- betul serasi. Biasanya dalam kenyataan dilapangan pintu dibuat dengan berkisar 200 cm dan lebarnya kurang lebih 85 cm. Kebanyakan dalam bekerja daun pintu/jendela memutar keluar atau kedalam dan ada juga bergerak ke samping (menyerong). Untuk pintu garasi dan toko-toko menggunakan pintu gulung(rolling door)
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan pintu maupun jendela adalah :
•Konstruksi daun pintu dan jendela harus dibuat kaku sehingga tidak akan mengalami perubahan bentuk seperti jajaran genjang.
•Daun pintu dan jendela yang memakai bingkai harus memiliki ukuran lebar dan tebal yang sesuai sehingga tidak melentur dikemudian hari
•Pada pemasangan pintu dan jendela, jangan sekali-kali ada celah lubang antara pertemuan kusen dengan daun pintu dan jendela.
•Untuk mencegah penyusutan atau pelenturan. Kayu yang digunakan harus memiliki mutu yang baik.
Daun Pintu dan Jendela.
A. Macam daun pintu dan jendela.
a)Daun pintu klam
1.Pintu klam terdiri dari deretan papan klam yang diperkuat dengan klam. Letak klam dapat horisontal, atau kombinasi horisontal dan diagonal.
2.Tebal papan klam 1,5 s/d 2 cm, lebar papan klam kurang dari 15 cm, bila terjadi penyusutan tidak menimbulkan celah lebar. Tebal klam 2,5 s/d 3 cm, lebar 12 s/d 15 cm.
b) Daun Jendela Klam
1. Memiliki dimensi sama seperti daun jendela pada umumnya.
2. Merupakan deretan papan klam dengan tebal 1-2 cm.
3. Diperkuat dengan klam tebal 2,5 - 3 cm , lebar 12 -15 cm.
c) Daun pintu panil
1. Ukuran panil menggunakan tebal papan 3 – 3,5 cm, kedalaman alur panil dibuat minimal 1cm, bila terjadi penyusutan kayu, daun pintu tidak akan bercelah.
2. Bentuk panil dapat dibuat bervariasi, seperti pada pintu klasik, panil dapat diberi hiasan bentuk profil.
d) Daun Jendela Panil
1. Jendela panil terdiri dari ambang atas, ambang bawah dan samping. Dimensi ambang 3,5 /10 cm.
2. Papan panil menggunakan tebal papan 1,5 – 2 cm.
3. Ambang bagian dalam dari jendela panil dapat diberi ornamen berupa bentuk profil.
e) Daun pintu krepyak
1. Krepyak berfungsi membantu pertukaran udara dalam ruang.
2. Tebal krepyak menggunakan papan tebal 1,5 – 2 cm.
3. Kemiringan krepyak membentuk sudut 45?, perhatikan cara penarikan krepyak bawah dengan krepyak atasnya.
f) Daun Jendela krepyak
1. Daun jendela krepyak memiliki fungsi sama dengan daun pintu krepyak, yaitu membantu sirkulasi udara dalam ruang dalam keadaan tertutup.
2. Penggunaan krepyak dapat menyeluruh, dapat juga dikombinasikan dengan panil. Ketebalan krepyak 1,5-2 cm.
g) Daun Pintu Kaca.
1. Ukuran kisi-kisi kaca 3 x 3 cm. Kisi-kisi menggunakan sambungan persilangan setengah takikan.
2. Tebal kaca : Daun pintu berkaca lebar seperti pada pintu gendong menggunakan tebal 5 mm, untuk daun pintu dengan kisi-kisi menggunakan tebal kaca 3 mm.
h) Daun Jendela Kaca
1. Daun jendela kaca dapat menggunakan kaca penuh, dapat juga menggunakan kisi-kisi.
2. Daun jendela kaca dapat juga dikombinasikan dengan panil kayu.
3. Kaca menggunakan tebal 3mm untuk jendela kaca berdaun lebar, atau jendela kaca mati, menggunakan kaca tebal 5 mm.
i) Daun Pintu kombinasi Panil Krepyak
1. Batas antara panil dan krepyak pada Ketinggian daun pintu dan jendela Kurang lebih ½ dari tinggi daun.Krepyak pada bagian atas dan bagian bawah panil kayu.
2. Bentuk ini dipakai pada daun pintu dan jendela rangkap/dobel.
j) Daun Jendela kombinasi Panil Krepyak.
1. Kombinasi ini dapat menyatu, dapat juga terpisah. Bagian atas menggunakan krepyak, bagian bawah menggunakan panil kayu.
2. Untuk yang menyatu menggunakan ambang tengah, sedangkan untuk yang terpisah masing- masing memiliki ambang atas dan bawah.
k) Daun Pintu Kombinasi Panil dan Kaca.
1. Panil kayu pada bagian bawah daun, Panil kaca pada bagian atas.
2. Panil kayu dan panil kaca dapat diberi kisi-kisi seperti pada pintu klasik.
3. Kisi-kisi untuk kaca menggunakan Kayu ukuran 3 x 3 cm.
4. Pada pintu rangkap, pertemuan dua daun pintu diberi penutup/ lat yang disebut hidung-hidung.
l) Daun Pintu Play wood.
1. Rangka bagian dalam menggunakan ram kayu 3/13 cm sebagai ambang datar dan ambang tegak. Sambungan menggunakan lubang dan pen.
2. Bagian dalam diberi bilah yang berfungsi menahan playwood supaya tidak cembung. Ukuran bilah 2x3 cm.
3. Cara menempelkan playwood tidak dipaku akan tetapi menggunakan lem kayu
m) Daun Pintu Lipat.
1. Daun pintu lipat biasanya dipergunakan untuk pintu garasi, pertokoan, gedung pertemuan dan sebagainya.
2 Karena pintunya sangat lebar, maka lebar daun dibuat kecil-kecil, agar beban engsel menjadi ringan dan daun mudah dilipat.
3 Hubungan daun satu dan yang lain menggunakan engsel. Kualitas engsel harus baik, terutama engsel yang paling tepi.
4. Lebar kusen maksimum 3 m, apabila lebih dari 3 m, daun pintu menjadi berat, engsel menjadi mudah rusak dan terjadi penurunan pada daun. Untuk lebar kusen lebih dari 3 m sebaiknya menggunakan daun pintu sorong (sliding door).
B. Lebar daun pintu
Lebar daun pintu disesuaikan dengan lebar kusennya. Untuk lebar kusen 0,60 – 1,00 m biasanya dibuat daun pintu tunggal, sehingga ukuran lebar daun = ukuran dalam lebar kusen ditambah 2 x ukuran kedalaman sponning yaitu antara 2 – 3 cm. Untuk lebar kusen pintu 1,20- 1,40 m biasanya daun pintu dibuat dobel. Sehinga ukuran lebar daun pintu = ½ x lebar dalam kusen + kedalaman sponning 1 s/d 1,5 cm. Untuk daun pintu lipat dan pintu sorong lebar daun ditentukan berdasarkan lebar kusen kemudian dibagi menjadi beberapa bagian yang sama, misal untuk lebar kusen 3,00 m, apabila jumlah daun ada 5 buah, maka masing–masing daun lebarnya = ( 300 + 2 ) cm : 5 = 60, 4 cm. Untuk kusen di atas lebar 3,00 m sudah harus menggunakan pintu sorong (sliding door).
C. Lebar daun jendela.
Lebar daun jendela ditentukan oleh lebar dalam kusennya. Untuk jendela tunggal lebar daun = lebar dalam kusen + 2 s/d 3 cm. Untuk jendela rangkap lebar daun = ½ x lebar kusen + 1 s/d 1,5 cm.
D. Macam daun pintu dan jendela menurut penggunaannya.
1). Untuk ruang tamu : daun pintu panil kayu, panil kaca, kombinasi kayu dan kaca, daun pintu krepyak.
2). Daun jendela biasanya menggunakan jendela kaca.
3). Untuk ruang tidur : daun pintu panil kayu, daun pintu play wood.
4). Daun jendela panil kaca, untuk keamanan dapat menggunakan daun jendela krepyak
5). Untuk gudang : daun pintu panil, pada rumah sederhana menggunakan
6). daun pintu klam., jendela menggunakan penerangan atas dan ventilasi.
7). Untuk kamar mandi/wc : Menggunakan pintu panil atau pintu klam, penerangan dan ventilasi atas.
8). Untuk gedung perkantoran ; menggunakan daun pintu panil atau daun pintu kaca lebar, jendela mengunakan kaca lebar , untuk keamanan kadang diperkuat dengan teralis besi.
9). Untuk bangunan sekolah, pada bangunan lama banyak menggunakan daun pintu panil kombinasi krepyak dan jendela krepyak, sekarang banyak menggunakan pintu panil atau panil kombinasi kaca.
10). Untuk jendela menggunakan daun jendela kaca.
E. Bagian-bagian utama pada konstruksi daun pintu dan jendela.
1. Setiap daun pintu dan jendela minimal memiliki 4 ambang yaitu dua ambang tegak dan dua ambang datar. Tebal ambang dibuat sama dengan lebar sponning daun antara 3 s/d 4 cm.
2. Untuk pintu panil biasanya diperkuat dengan ambang datar tengah.
3. Ambang datar bawah dibuat lebih besar dari ambang datar tengah dan atas dikarenakan ambang datar bawah menahan beban berat sendiri daun pintu.
4. Sambungan ambang datar dan ambang tegak menggunakan sambungan pen dan lubang yang diperkuat dengan spat pen. Tebal pen diambil 1/3 dari ukuran tebal ambang.
5. Fungsi spat pen adalah disamping untuk merapatkan sambungan, berfungsi juga untuk memperluas bidang patahan, mengingat daun pintu dan jendela merupakan konstruksi yang bergerak, tinggi spat pen dibuat ¼ x lebar ambang
6. Pertemuan bagian dalam ambang biasanya dibuat verstek dengan kemiringan sudut 450, yang berfungsi juga menjaga agar sambungan bagian dalam tetap rapat.
Bagian-Bagian Kusen
Kusen terdiri atas :
1.Tiang (style).
2.Ambang (dorpel) pada kusen jendela terdapat ambang atas dan ambang bawah sedangkan pada pintu tidak ada ambang bawah.
3.Sponneng, yaitu tempat perletakan/melekatnya daun pintu atau daun jendela.
4.Telinga, yaitu bagian ambang (dorpel) yang masuk/ditanam kedalam tembok yang berfungsi untuk menahan gerakan kusen kemuka atau kebelakang.
5.Alur kapur, bagian dari tiang (style) yang dialur/dicoak dengan fungsi untuk menahan gerakan kusen kemuka atau kebelakang selain itu juga agar apabila terjadi penyusutan, tidak timbul celah.
6.Angkur, dipasang pada tiang (style), berfungsi untuk memperkuat melekatnya pada tembok juga menahan gerakan ke samping.dan ke muka/ke belakang.
7.Duk (neut), dipasang pada tiang (style) di bagian bawah, khusus untuk kusen pintu, berfungsi untuk menahan gerakan tiang ke segala arah dan melindung tiang kayu terhadap resapan air dari latai ke atas.
CARA MENENTUKAN UKURAN VENTILASI RUANGAN.
Dalam menentukan ukuran, menggunakan dasar pendekatan antara lain, fungsi dan aktifitas ruang, kapasitas ruang, kebutuhan manusia akan oksigen dan sebagainya.
a. Luas lubang penerangan/cahaya : Luas pintu dan jendela tidak masuk dalam perhitungan .
Untuk kamar tidur 1/6 × luas lantai ruang
Kamar duduk 1/7 –1/6 × luas lantai ruang.
Sekolah dan kantor1/6 –1/5 × luas lantai ruang.
Rumah sakit1/6 - 1/5 × luas lantai ruang.
Bengkel 1/6 -1/3 × luas lantai ruang.
Gudang 1/10 × luas lantai ruang
b. Luas lubang ventilasi.
Dalam penentuan lubang ventilasi luas pintu dan jendela tidak di perhitungkan. Luas minimum lubang ventilasi adalah : antara 1/40 sampai dengan 1/10 × luas lantai ruang.
c. Lubang kusen pintu dan jendela.
Dasar pertimbangan penentuan ukuran kusen pintu dan jendela adalah berdasarkan pada pendekatan fungsi ruang dalam suatu bangunan dan tinjauan dari aspek estetika.
Ukuran yang dipakai adalah ukuran dalam, yaitu jarak tepi-tepi dalam kusen.
Tinggi pintu : ditentukan berdasarkan tinggi orang normal 1,60 m ditambah tinggi bebas 0,40 m sampai dengan 0,60 m.
Lebar pintu : ditentukan berdasarkan tempat dan fungsinya.
Untuk pintu KM/WC : antara 0,60 m sampai dengan 0,70 m
Kamar tidur : 0,80 m
Kamar tamu : 1,00 m sampai dengan 1,20 m
Pintu utama kantor : sampai 3,00 m
Untuk garasi, gudang : Tinggi kendaraan ditambah 0,40 s/d 0,60 m. Tinggi minimum 2,50 m. Lebar minimum 3,00 m
Untuk bangunan monumental : dengan menggunakan skala monumental, disesuaikan dengan proporsi bangunannya.
Tinggi Jendela : tinggi ambang atas jendela dibuat sama dengan tinggi ambang atas pintu agar tampak serasi. Tinggi ambang bawah dari kusen jendela disesuaikan fungsi ruang.
Untuk ruang tidur : 0,80 m s/d 1,20 m dari lantai.
Untuk ruang tamu, keluarga : 0,20 m s/d 0,40m agar ruangan memperoleh penerangan sebanyak-banyaknya.
Untuk ruang-ruang sekolah dibuat setinggi 1,30 m dari lantai agar para peserta diklat tidak dapat melihat keluar saat pelajaran berlangsung.
Dalam menentukan ukuran, menggunakan dasar pendekatan antara lain, fungsi dan aktifitas ruang, kapasitas ruang, kebutuhan manusia akan oksigen dan sebagainya.
a. Luas lubang penerangan/cahaya : Luas pintu dan jendela tidak masuk dalam perhitungan .
Untuk kamar tidur 1/6 × luas lantai ruang
Kamar duduk 1/7 –1/6 × luas lantai ruang.
Sekolah dan kantor1/6 –1/5 × luas lantai ruang.
Rumah sakit1/6 - 1/5 × luas lantai ruang.
Bengkel 1/6 -1/3 × luas lantai ruang.
Gudang 1/10 × luas lantai ruang
b. Luas lubang ventilasi.
Dalam penentuan lubang ventilasi luas pintu dan jendela tidak di perhitungkan. Luas minimum lubang ventilasi adalah : antara 1/40 sampai dengan 1/10 × luas lantai ruang.
c. Lubang kusen pintu dan jendela.
Dasar pertimbangan penentuan ukuran kusen pintu dan jendela adalah berdasarkan pada pendekatan fungsi ruang dalam suatu bangunan dan tinjauan dari aspek estetika.
Ukuran yang dipakai adalah ukuran dalam, yaitu jarak tepi-tepi dalam kusen.
Tinggi pintu : ditentukan berdasarkan tinggi orang normal 1,60 m ditambah tinggi bebas 0,40 m sampai dengan 0,60 m.
Lebar pintu : ditentukan berdasarkan tempat dan fungsinya.
Untuk pintu KM/WC : antara 0,60 m sampai dengan 0,70 m
Kamar tidur : 0,80 m
Kamar tamu : 1,00 m sampai dengan 1,20 m
Pintu utama kantor : sampai 3,00 m
Untuk garasi, gudang : Tinggi kendaraan ditambah 0,40 s/d 0,60 m. Tinggi minimum 2,50 m. Lebar minimum 3,00 m
Untuk bangunan monumental : dengan menggunakan skala monumental, disesuaikan dengan proporsi bangunannya.
Tinggi Jendela : tinggi ambang atas jendela dibuat sama dengan tinggi ambang atas pintu agar tampak serasi. Tinggi ambang bawah dari kusen jendela disesuaikan fungsi ruang.
Untuk ruang tidur : 0,80 m s/d 1,20 m dari lantai.
Untuk ruang tamu, keluarga : 0,20 m s/d 0,40m agar ruangan memperoleh penerangan sebanyak-banyaknya.
Untuk ruang-ruang sekolah dibuat setinggi 1,30 m dari lantai agar para peserta diklat tidak dapat melihat keluar saat pelajaran berlangsung.
Langganan:
Postingan (Atom)








